Allah swt. mengutus para rasul untuk menjelaskan serta mengarahkan sendi-sendi kehidupan manusia baik itu iman, ibadah, sosial kemasyarakatan dll. Meski risalah yang mereka bawa menuai badai kritis di kalangan umatnya sendiri. Dalam hal berdoa, mereka ajarkan umatnya agar tidak minta sesuatu kepada benda mati dengan diusung sebuah logika, ''bagaimana mungkin benda mati yang tak mampu berbicara dan mendengar mengabulkan permintaan seseorang?''.
Allah swt. berfirman: ''Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al Hajj: 73).
Doa merupakan wujud ketergantungan, pengharapan dan permohonan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Dan pada hakikatnya doa adalah tumpuan hidup sehari-hari. Tidak sedikit yang menjadikan doa itu sebagai gantungan dalam hidupnya. Hal ini dapat kita lihat dan kita rasakan di saat seseorang atau sekelompok orang akan memulai suatu usaha atau pekerjaan, hati mereka secara spontan berbisik, semoga Tuhan memberikan kemudahan serta keberhasilan sebagaimana yang mereka harapkan.
Hal ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh dan peranan do’a dalam kehidupan manusia sehari-hari. Rasulullah saw. Sendiri menyatakan dalam sabdanya, “Doa itu adalah mukhul (penggerak) ibadah (kegiatan hidup setiap manusia)“.
Disamping itu, doa juga bisa berfungsi sebagai motivasi hidup yang harus dicapai dengan segala daya upaya. Sebelum berdoa seseorang harus meyakini bahwa Allah swt. adalah Rabb bagi manusia dan satu-satunya tempat memohon.
Seseorang harus memahami benar apa itu doa, untuk apa berdoa, apa hakikat doa, bagaimana etika berdoa, dan apa doa yang cocok dengan diri masing-masing, sehingga ia tidak keliru dalam berdoa atau salah posisi ketika berdialog dengan Allah swt. Yang Maha Pemberi.
Keutamaan Berdoa
Keutamaan berdoa banyak menghiasi buku-buku hadits yang di antaranya memuat betapa mulianya seorang hamba di sisi Allah swt. yang mengadahkan kedua tangannya seraya memohon kepada-Nya (HR. Hakim). Dan sabda Rasulullah Saw.: ''Barangsiapa yang tidak memohon ”berdoa” kepada Allah swt., niscaya Ia murka kepadanya.'' (HR. Tarmidz).
Syarat Berdoa
Menurut Syekh Muhammad Thantawi, agar doa dikabulkan hendaklah seorang hamba dalam keadaan suci lahir dan batin dari segala dosa. Untuk mensucikan diri dari dosa ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, memperbanyak zikir, ber-istighfar dan bertaubat. Kedua, Senantiasa bergaul dengan orang-orang saleh karena akhlak mereka dapat mempengaruhi diri dan akal hingga bermanfaat bagi agama dan dunia. Dan yang terakhir, mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal.
Faktor Penghalang Terkabulnya Doa
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Ibrahim bin Adham ditanya seseorang, ''Wahai Ibrahim, mengapa kami berdoa tapi tak dikabulkan?'' Beliau menjawab: ''Karena hatimu mati disebabkan sepuluh perkara: Pertama, kamu mengenal Allah tapi tidak menaati-Nya. Kedua, kamu mengenal Rasulullah saw. tapi tidak megikuti sunnahnya. Ketiga, kamu mengetahui Al Quran tapi tidak mengamalkannya. Keempat, kamu menikmati karunia Allah Swt tapi tidak bersyukur. Kelima, kamu mengetahui adanya surga tapi tidak memintanya.
Keenam, kamu mengetahui adanya neraka tapi tidak menghindarinya. Ketujuh, kamu mengetahui adanya setan tapi tidak memeranginya bahkan mendekatinya. Kedelapan, kamu akan mati tapi tidak mau bersiap-siap. Kesembilan, kamu sering menguburi kaum muslimin tapi tak mengambil ibrah dari kuburan tersebut. Dan yang terakhir,,kamu sering terjaga dari tidur tapi menyibukkan diri dengan menyebarkan aib manusia sedangkan kamu meninggalkan aib kamu sendiri.
Segala sesuatu yang berlaku di dunia ini, semuanya menuruti sunatullah dan tak satupun yang bisa keluar dari ketentuan tersebut. Begitu juga dengan doa, dikabulkan atau ditolak tergantung kepada mampu atau tidaknya seseorang memahami dan mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah swt.
Dalam Al Quran dikatakan bahwa Allah swt. Akan mengabulkan doa seorang hamba dengan dua ketentuan, yaitu memenuhi segala perintah-Nya dan beriman kepada-Nya agar ia selalu dalam kebenaran. ''Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah:186).
Akhirnya, mari kita jadikan do’a sebagai pilar kehidupan, dengan artian aktifitas yang kita kerjakan didasari dengan niatan lillahita’ala dan penuh doa (harapan) untuk menggapai ridha Allah swt..Wallahua’lam bishawab.
Sumber :
http://ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&catid=58%3Asayyidul-ayyaam&id=97%3Amenjadikan-doa-sebagai-pilar-kehidupan&Itemid=88
Allah swt. berfirman: ''Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al Hajj: 73).
Doa merupakan wujud ketergantungan, pengharapan dan permohonan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Dan pada hakikatnya doa adalah tumpuan hidup sehari-hari. Tidak sedikit yang menjadikan doa itu sebagai gantungan dalam hidupnya. Hal ini dapat kita lihat dan kita rasakan di saat seseorang atau sekelompok orang akan memulai suatu usaha atau pekerjaan, hati mereka secara spontan berbisik, semoga Tuhan memberikan kemudahan serta keberhasilan sebagaimana yang mereka harapkan.
Hal ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh dan peranan do’a dalam kehidupan manusia sehari-hari. Rasulullah saw. Sendiri menyatakan dalam sabdanya, “Doa itu adalah mukhul (penggerak) ibadah (kegiatan hidup setiap manusia)“.
Disamping itu, doa juga bisa berfungsi sebagai motivasi hidup yang harus dicapai dengan segala daya upaya. Sebelum berdoa seseorang harus meyakini bahwa Allah swt. adalah Rabb bagi manusia dan satu-satunya tempat memohon.
Seseorang harus memahami benar apa itu doa, untuk apa berdoa, apa hakikat doa, bagaimana etika berdoa, dan apa doa yang cocok dengan diri masing-masing, sehingga ia tidak keliru dalam berdoa atau salah posisi ketika berdialog dengan Allah swt. Yang Maha Pemberi.
Keutamaan Berdoa
Keutamaan berdoa banyak menghiasi buku-buku hadits yang di antaranya memuat betapa mulianya seorang hamba di sisi Allah swt. yang mengadahkan kedua tangannya seraya memohon kepada-Nya (HR. Hakim). Dan sabda Rasulullah Saw.: ''Barangsiapa yang tidak memohon ”berdoa” kepada Allah swt., niscaya Ia murka kepadanya.'' (HR. Tarmidz).
Syarat Berdoa
Menurut Syekh Muhammad Thantawi, agar doa dikabulkan hendaklah seorang hamba dalam keadaan suci lahir dan batin dari segala dosa. Untuk mensucikan diri dari dosa ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, memperbanyak zikir, ber-istighfar dan bertaubat. Kedua, Senantiasa bergaul dengan orang-orang saleh karena akhlak mereka dapat mempengaruhi diri dan akal hingga bermanfaat bagi agama dan dunia. Dan yang terakhir, mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal.
Faktor Penghalang Terkabulnya Doa
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Ibrahim bin Adham ditanya seseorang, ''Wahai Ibrahim, mengapa kami berdoa tapi tak dikabulkan?'' Beliau menjawab: ''Karena hatimu mati disebabkan sepuluh perkara: Pertama, kamu mengenal Allah tapi tidak menaati-Nya. Kedua, kamu mengenal Rasulullah saw. tapi tidak megikuti sunnahnya. Ketiga, kamu mengetahui Al Quran tapi tidak mengamalkannya. Keempat, kamu menikmati karunia Allah Swt tapi tidak bersyukur. Kelima, kamu mengetahui adanya surga tapi tidak memintanya.
Keenam, kamu mengetahui adanya neraka tapi tidak menghindarinya. Ketujuh, kamu mengetahui adanya setan tapi tidak memeranginya bahkan mendekatinya. Kedelapan, kamu akan mati tapi tidak mau bersiap-siap. Kesembilan, kamu sering menguburi kaum muslimin tapi tak mengambil ibrah dari kuburan tersebut. Dan yang terakhir,,kamu sering terjaga dari tidur tapi menyibukkan diri dengan menyebarkan aib manusia sedangkan kamu meninggalkan aib kamu sendiri.
Segala sesuatu yang berlaku di dunia ini, semuanya menuruti sunatullah dan tak satupun yang bisa keluar dari ketentuan tersebut. Begitu juga dengan doa, dikabulkan atau ditolak tergantung kepada mampu atau tidaknya seseorang memahami dan mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah swt.
Dalam Al Quran dikatakan bahwa Allah swt. Akan mengabulkan doa seorang hamba dengan dua ketentuan, yaitu memenuhi segala perintah-Nya dan beriman kepada-Nya agar ia selalu dalam kebenaran. ''Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah:186).
Akhirnya, mari kita jadikan do’a sebagai pilar kehidupan, dengan artian aktifitas yang kita kerjakan didasari dengan niatan lillahita’ala dan penuh doa (harapan) untuk menggapai ridha Allah swt..Wallahua’lam bishawab.
Sumber :
http://ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&catid=58%3Asayyidul-ayyaam&id=97%3Amenjadikan-doa-sebagai-pilar-kehidupan&Itemid=88
0 Response to "Menjadikan Do’a Sebagai Pilar Kehidupan"
Posting Komentar
Assalamualaikum,,,,
Silahkan rekan-rekan berikan komentar, saran, maupun ide yang membangun
Terimakasih untuk sapaan rekan-rekan...