Iman kepada Allah Ta’ala adalah pedoman dari kehidupan rohaniah, sumber ketenangan dan ketenteraman diri serta langkah awal dari semua bentuk kebahagiaan. Iman merupakan sebuah keyakinan yang muncul dari pemahaman diri tentang alam beserta isinya yang berkaitan dengan kebesaran Sang Khaliq.
Tanda-tanda keimanan dalam diri seseorang dapat terlihat dari amal perbuatan yang dikerjakan, karena kepribadian diri seseorang merupakan pancaran dari iman yang ada di dalam diri seseorang.
Seseorang dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya iman adalah jika ia berbuat kebajikan dan berada di jalan yang lurus serta meninggalkan kemungkaran karena takut mendapat ‘adzab yang pedih dari Allah Swt. Hal ini sering kita dengar dengan istilah iman hakiki. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa setiap kali terdapat kata iman, pasti tidak akan terlepas dari kata amal shalih. Hal ini menunjukan bahwa Allah Ta’ala mewajibkan kepada siapa saja yang beriman agar senantiasa mengikat dirinya dengan amal kebajikan. Karena orang yang beriman kepada Allah lalu diikuti dengan amal shalih, ia akan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisi Allah di akhirat kelak. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga”. (QS. Al-Baqarah: 25)
Dalam ayat lain dikatakan: “Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan , kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik itu”. (QS. Al-Kahfi: 30)
Salah satu pengaruh Iman kepada Allah, menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat, kerena manusia ketika di dalam hatinya memiliki benteng dan pondasi yang kuat (iman) maka tidak ada satupun yang dapat menyingkirkannya, baik itu dari godaan setan ataupun pengaruh hawa nafsu.
Nabi Saw. bersabda: “Tidak berzina orang yang beriman itu, tidak mencuri orang yang beriman itu, dan tidak minum-minuman keras bagi orang yang minum sedang dalam keadaan beriman”.(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang beriman dan kuat menahan hawa nafsunya, niscaya Allah pun akan menjaganya dari perbuatan-perbuatan munkar.
Selain menjauhkan diri dari maksiat, adanya iman kepada Allah juga menerangi segala kegelapan yang meliputi kehidupan kita. Ketika seorang hamba hampir putus asa dalam menghadapi masalah, namun ia masih memiliki iman kepada Yang Maha Kuasa, maka keputusasaaan itu akan terarah kepada hal-hal yang positif. Karena ia yakin bahwa Allah lah yang paling berhak merubah keadaan manusia dengan segala ikhtiar dan tawakkal hambanya.
Allah Ta’ala telah memberi kabar gembira kepada para hamba-Nya yang beriman di dalam Al-Qur’an: "Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya”. (QS. At-Taghabun: 11). Pada ayat lain dikatakan: “Dan sungguh, Allah memberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”. (QS. Al-Hajj: 54)
Mengingat Allah
Salah satu tujuan hidup kita adalah menikmati kententeraman dan kenyamanan atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita. Mengingat Allah (dzikrullah) adalah washilah untuk mencapai kebahagaiaan di dunia dan akhirat. Mengingat Allah adalah salah satu wujud keimanan seorang hamba kepada-Nya yang juga merupakan konsumsi ruhiah setiap hamba Allah. Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat allah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’d: 28)
Mengingat Allah (dzikrullah) juga merupakan salah satu wujud cinta seorang hamba kepada sang Khaliq. Dengan menyebut dan mengingat-Nya, seorang hamba akan mendapatkan cinta dan rahmat dari-Nya sebagai balasan untuknya. Ayat-ayat berikut merupakan bukti nyata akan janji Allah kepada hambanya yang senantiasa berdzikir kepadanya: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. (Aku) limpahkan rahmat dan ampunan kepadamu”. (QS.Al-Baqarah: 152)
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (namanya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu) agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. (QS.Al-Ahzab: 41-43)
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS.Al-Ahzab: 35)
Jika sebelumnya, al-Qur’an menyebutkan beberapa keutamaan dzikir, maka pada ayat lain juga dikatakan bahwa orang yang berpaling dari Allah dan lidahnya kering dari menyebut nama-Nya serta hatinya jauh dari mengingat Allah, maka manusia itu akan tersesat dan terlempar ke jurang kebinasaan. “Dan barang siapa berpaling dari mengingat Allah Yang Maha Pengasih, kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya. Dan sunguh , mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk” .(QS.Az-Zukhruf: 36-37)
Orang yang berpaling dari mengingat Allah dan jauh dari petunjuknya, maka Allah menjadikan setan sebagai pemimpin yang membawa dan menghiasi hidupnya dengan segala bentuk perbuatan maksiat.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan hamba-hambanya yang senantiasa mengingat dan beriman kepada Allah Ta’ala. Amiin. Wallahu a’lam bi shawab.
sumber :
http://ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&catid=58%3Asayyidul-ayyaam&id=94%3Apengaruh-iman-kepada-allah&Itemid=88
Tanda-tanda keimanan dalam diri seseorang dapat terlihat dari amal perbuatan yang dikerjakan, karena kepribadian diri seseorang merupakan pancaran dari iman yang ada di dalam diri seseorang.
Seseorang dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya iman adalah jika ia berbuat kebajikan dan berada di jalan yang lurus serta meninggalkan kemungkaran karena takut mendapat ‘adzab yang pedih dari Allah Swt. Hal ini sering kita dengar dengan istilah iman hakiki. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa setiap kali terdapat kata iman, pasti tidak akan terlepas dari kata amal shalih. Hal ini menunjukan bahwa Allah Ta’ala mewajibkan kepada siapa saja yang beriman agar senantiasa mengikat dirinya dengan amal kebajikan. Karena orang yang beriman kepada Allah lalu diikuti dengan amal shalih, ia akan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisi Allah di akhirat kelak. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga”. (QS. Al-Baqarah: 25)
Dalam ayat lain dikatakan: “Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan , kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik itu”. (QS. Al-Kahfi: 30)
Salah satu pengaruh Iman kepada Allah, menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat, kerena manusia ketika di dalam hatinya memiliki benteng dan pondasi yang kuat (iman) maka tidak ada satupun yang dapat menyingkirkannya, baik itu dari godaan setan ataupun pengaruh hawa nafsu.
Nabi Saw. bersabda: “Tidak berzina orang yang beriman itu, tidak mencuri orang yang beriman itu, dan tidak minum-minuman keras bagi orang yang minum sedang dalam keadaan beriman”.(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang beriman dan kuat menahan hawa nafsunya, niscaya Allah pun akan menjaganya dari perbuatan-perbuatan munkar.
Selain menjauhkan diri dari maksiat, adanya iman kepada Allah juga menerangi segala kegelapan yang meliputi kehidupan kita. Ketika seorang hamba hampir putus asa dalam menghadapi masalah, namun ia masih memiliki iman kepada Yang Maha Kuasa, maka keputusasaaan itu akan terarah kepada hal-hal yang positif. Karena ia yakin bahwa Allah lah yang paling berhak merubah keadaan manusia dengan segala ikhtiar dan tawakkal hambanya.
Allah Ta’ala telah memberi kabar gembira kepada para hamba-Nya yang beriman di dalam Al-Qur’an: "Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya”. (QS. At-Taghabun: 11). Pada ayat lain dikatakan: “Dan sungguh, Allah memberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”. (QS. Al-Hajj: 54)
Mengingat Allah
Salah satu tujuan hidup kita adalah menikmati kententeraman dan kenyamanan atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita. Mengingat Allah (dzikrullah) adalah washilah untuk mencapai kebahagaiaan di dunia dan akhirat. Mengingat Allah adalah salah satu wujud keimanan seorang hamba kepada-Nya yang juga merupakan konsumsi ruhiah setiap hamba Allah. Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat allah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’d: 28)
Mengingat Allah (dzikrullah) juga merupakan salah satu wujud cinta seorang hamba kepada sang Khaliq. Dengan menyebut dan mengingat-Nya, seorang hamba akan mendapatkan cinta dan rahmat dari-Nya sebagai balasan untuknya. Ayat-ayat berikut merupakan bukti nyata akan janji Allah kepada hambanya yang senantiasa berdzikir kepadanya: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. (Aku) limpahkan rahmat dan ampunan kepadamu”. (QS.Al-Baqarah: 152)
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (namanya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu) agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. (QS.Al-Ahzab: 41-43)
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS.Al-Ahzab: 35)
Jika sebelumnya, al-Qur’an menyebutkan beberapa keutamaan dzikir, maka pada ayat lain juga dikatakan bahwa orang yang berpaling dari Allah dan lidahnya kering dari menyebut nama-Nya serta hatinya jauh dari mengingat Allah, maka manusia itu akan tersesat dan terlempar ke jurang kebinasaan. “Dan barang siapa berpaling dari mengingat Allah Yang Maha Pengasih, kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya. Dan sunguh , mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk” .(QS.Az-Zukhruf: 36-37)
Orang yang berpaling dari mengingat Allah dan jauh dari petunjuknya, maka Allah menjadikan setan sebagai pemimpin yang membawa dan menghiasi hidupnya dengan segala bentuk perbuatan maksiat.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan hamba-hambanya yang senantiasa mengingat dan beriman kepada Allah Ta’ala. Amiin. Wallahu a’lam bi shawab.
sumber :
http://ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&catid=58%3Asayyidul-ayyaam&id=94%3Apengaruh-iman-kepada-allah&Itemid=88
0 Response to "Pengaruh Iman Kepada Allah"
Posting Komentar
Assalamualaikum,,,,
Silahkan rekan-rekan berikan komentar, saran, maupun ide yang membangun
Terimakasih untuk sapaan rekan-rekan...