Allah swt. memberikan manusia potensi positif dan negatif. Berani dan takut misalnya. Tapi tidak semua keberanian itu positif dan tidak semua ketakutan itu negatif. Semuanya tergantung pada diri masing-masing. Mampukah kita mengubah ketakutan menjadi keberanian yang positif atau hanya diam dalam ketakutan dan menjadi seorang pengecut.
Takut dan berani merupakan dua “perseteruan’’ dalam diri manusia yang sangat kontras. Keduanya menyangkut potensi positif dan potensi negatif diri seseorang. Ada ketakutan karena ketidakberdayaan membawa diri, pemalu, pengecut, pecundang, perisau, atau perusak. Semuanya akan kalah jika dalam diri masih memiliki potensi positif untuk melawan ketakutan dengan keberanian. Keberanian adalah ketakutan yang terukur, sedangkan ketakutan adalah keberanian yang tidak terukur.
Adalah hal yang manusiawi jika masing-masing kita pernah mengalami rasa takut untuk melakukan sesuatu yang positif. Ada kalanya rasa takut itu mendatangkan nilai positif. Namun tidak jarang rasa takut itu berdampak negatif. Ada orang yang ingin belajar naik sepeda misalnya, tapi ia selalu merasa takut, takut terjatuh, takut terluka, dan lain sebagainya.
Banyak orang yang ingin menikah, tetapi merasa takut untuk menikah, diantaranya: takut tidak cocok, takut tidak punya keturunan, takut ditinggal oleh pasangannnya, takut tidak punya penghasilan dan lain sebagainya. Ketakutan dalam hal ini, dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu: ketakutan yang terukur sehingga dapat mewujudkan pernikahan dengan konsekwensi saling menerima dan memahami pasangannya, dan ketakutan yang tidak terukur yang tidak jarang mengakibatkan banyak orang tidak menikah sampai tua.
Firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 35, yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (sukses)”.
Allah lah satu-satunya yang berhak memberikan kesuksesan. Dengan potensi positif dan negatif yang dianugerahi Allah, manusia dipersilahkan menjadi pemain dalam panggung kehidupan dengan segala permasalahannya.
Hikmah yang kita ambil dari ayat di atas adalah suatu keharusan orang mukmin memiliki rasa takut kepada Allah swt. Sang Maha Pencipta. Allah swt. wajib ditakuti bukan karena menakutkan, melainkan karena kewajiban kita berkhidmat sebagai hamba kepada penciptanya. Sang Maha Pencipta akan mengawasi dan menilai gerak-gerik hamba-Nya. Namun, disisi lain kita sebagai hamba-Nya mengharapkan penilaian terbaik sehingga menghasilkan balasan terbaik juga, yaitu sukses dunia dan akhirat. Oleh karena itu, kita pun takut melakukan hal-hal yang berbau maksiat karena akan menjauhkan kita dari kasih sayang dan pertolongan Allah swt.
Telah diuraikan di atas, bahwa tidak semua keberanian merupakan tindak positif dan tidak semua ketakutan itu membuahkan suatu yang negatif. Berani membela kebenaran dan takut pada hal-hal munkar adalah sikap yang positif. Akan tetapi berani melakukan keburukan dan takut membela kebenaran adalah negati.
Orang yang enggan beribadah karena takut diperolok sebagai orang alim adalah tindakan yang sangat negatif. Ia tidak takut kepada Allah swt., akan tetapi ia lebih takut pada cemoohan makhluk-Nya. Orang seperti ini akan Allah jadikan ia selalu diliputi rasa takut dalam segala hal, seperti: takut menghadapi cobaan-cobaan Allah, takut mengambil keputusan dan perasaan takut lainnya yang selalu menghantui dirinya. Diriwayatkan dalam sebuah hadits: “Apabila seorang hamba takut kepada Allah, niscaya Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Namun, apabila seorang hamba tidak takut kepada Allah, niscaya Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu”. (HR Baihaqi)
Jadi, pada intinya kita dipersilahkan dan dianjurkan mengembangkan keberanian yang positif yang berujung ketakutan (ketaatan) kepada Allah swt. Ibnu Qudamah al-Maqdisi menerangkan bahwa takut kepada Allah mendorong kita untuk mencari dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang menjadikan kita lebih banyak beramal. Ilmu dan amal merupakan salah satu jalan mendekatkan diri kepada Allah swt. Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber :
http://ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&catid=58%3Asayyidul-ayyaam&id=93%3Arasa-takut-yang-positif&Itemid=88
Takut dan berani merupakan dua “perseteruan’’ dalam diri manusia yang sangat kontras. Keduanya menyangkut potensi positif dan potensi negatif diri seseorang. Ada ketakutan karena ketidakberdayaan membawa diri, pemalu, pengecut, pecundang, perisau, atau perusak. Semuanya akan kalah jika dalam diri masih memiliki potensi positif untuk melawan ketakutan dengan keberanian. Keberanian adalah ketakutan yang terukur, sedangkan ketakutan adalah keberanian yang tidak terukur.
Adalah hal yang manusiawi jika masing-masing kita pernah mengalami rasa takut untuk melakukan sesuatu yang positif. Ada kalanya rasa takut itu mendatangkan nilai positif. Namun tidak jarang rasa takut itu berdampak negatif. Ada orang yang ingin belajar naik sepeda misalnya, tapi ia selalu merasa takut, takut terjatuh, takut terluka, dan lain sebagainya.
Banyak orang yang ingin menikah, tetapi merasa takut untuk menikah, diantaranya: takut tidak cocok, takut tidak punya keturunan, takut ditinggal oleh pasangannnya, takut tidak punya penghasilan dan lain sebagainya. Ketakutan dalam hal ini, dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu: ketakutan yang terukur sehingga dapat mewujudkan pernikahan dengan konsekwensi saling menerima dan memahami pasangannya, dan ketakutan yang tidak terukur yang tidak jarang mengakibatkan banyak orang tidak menikah sampai tua.
Firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 35, yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (sukses)”.
Allah lah satu-satunya yang berhak memberikan kesuksesan. Dengan potensi positif dan negatif yang dianugerahi Allah, manusia dipersilahkan menjadi pemain dalam panggung kehidupan dengan segala permasalahannya.
Hikmah yang kita ambil dari ayat di atas adalah suatu keharusan orang mukmin memiliki rasa takut kepada Allah swt. Sang Maha Pencipta. Allah swt. wajib ditakuti bukan karena menakutkan, melainkan karena kewajiban kita berkhidmat sebagai hamba kepada penciptanya. Sang Maha Pencipta akan mengawasi dan menilai gerak-gerik hamba-Nya. Namun, disisi lain kita sebagai hamba-Nya mengharapkan penilaian terbaik sehingga menghasilkan balasan terbaik juga, yaitu sukses dunia dan akhirat. Oleh karena itu, kita pun takut melakukan hal-hal yang berbau maksiat karena akan menjauhkan kita dari kasih sayang dan pertolongan Allah swt.
Telah diuraikan di atas, bahwa tidak semua keberanian merupakan tindak positif dan tidak semua ketakutan itu membuahkan suatu yang negatif. Berani membela kebenaran dan takut pada hal-hal munkar adalah sikap yang positif. Akan tetapi berani melakukan keburukan dan takut membela kebenaran adalah negati.
Orang yang enggan beribadah karena takut diperolok sebagai orang alim adalah tindakan yang sangat negatif. Ia tidak takut kepada Allah swt., akan tetapi ia lebih takut pada cemoohan makhluk-Nya. Orang seperti ini akan Allah jadikan ia selalu diliputi rasa takut dalam segala hal, seperti: takut menghadapi cobaan-cobaan Allah, takut mengambil keputusan dan perasaan takut lainnya yang selalu menghantui dirinya. Diriwayatkan dalam sebuah hadits: “Apabila seorang hamba takut kepada Allah, niscaya Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Namun, apabila seorang hamba tidak takut kepada Allah, niscaya Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu”. (HR Baihaqi)
Jadi, pada intinya kita dipersilahkan dan dianjurkan mengembangkan keberanian yang positif yang berujung ketakutan (ketaatan) kepada Allah swt. Ibnu Qudamah al-Maqdisi menerangkan bahwa takut kepada Allah mendorong kita untuk mencari dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang menjadikan kita lebih banyak beramal. Ilmu dan amal merupakan salah satu jalan mendekatkan diri kepada Allah swt. Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber :
http://ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&catid=58%3Asayyidul-ayyaam&id=93%3Arasa-takut-yang-positif&Itemid=88
0 Response to "Rasa Takut Yang Positif"
Posting Komentar
Assalamualaikum,,,,
Silahkan rekan-rekan berikan komentar, saran, maupun ide yang membangun
Terimakasih untuk sapaan rekan-rekan...